Menteri Keuangan Menyebutkan Joko Widodo Sudah Menambah utang senilai 1.1 Triliun Rupiah

Menteri Keuangan Menyebutkan Joko Widodo Sudah Menambah utang senilai 1.1 Triliun Rupiah

Menteri Keuangan Menyebutkan Joko Widodo Sudah Menambah utang senilai 1.1 Triliun Rupiah – Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, pemerintah Joko Widodo (Jokowi) sudah menambah utang senilai Rp 1.166 triliun selama tiga tahun tepatnya dalam kurun waktu periode tahun 2015-2017. Utang tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan produktif, seperti investasi pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, dan meningkatkan anggaran pendidikan maupun kesehatan.

“Periode 2012-2014, total tambahan utang Rp 609,5 triliun. Pada tiga tahun berikutnya 2015-2017, pemerintah tambah utang Rp 1.166 triliun,” kata Sri Mulyani.

Lebih jauh ia menjelaskan, dengan tambahan utang Rp 609,5 triliun di 2012-2014, belanja pemerintah untuk :
1. Infrastruktur Rp 486 triliun,
2. Pendidikan Rp 983 triliun,
3. kesehatanan Rp 145 triliun,
4. Perlindungan Sosial Rp 35 triliun,
5. Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik
Rp 88,6 triliun.

Menteri Keuangan Menyebutkan Joko Widodo Sudah Menambah utang senilai 1.1 Triliun Rupiah

Menteri Keuangan Menyebutkan Joko Widodo Sudah Menambah utang senilai 1.1 Triliun Rupiah

“Sedangkan tambahan utang Rp 1.166 triliun pada 2015-2016. Penggunaan utang untuk belanja yang sifatnya produktif,” tegas Sri Mulyani.
Dari datanya, Sri Mulyani menunjukkan bahwa tambahan utang Rp 1.166 triliun selama tiga tahun (2015-2017) untuk menambal belanja di bidang
1. Infrastruktur Rp 912,9 triliun.
2. Pendidikan Rp 1.176 triliun,
3. Kesehatan Rp 262,3 trliun
4. Perlindungan Sosial Rp 299,6 triliun
5 DAK Fisik Rp 315,9 triliun.

“Kalau dilihat, tambahan utang mengalami puncak di 2015, kemudian turun. Pada 2017, tambahan utang kita sebetulnya negatif Rp 18 triliun. Itu berarti kita tidak berutang lebih banyak dari tahun sebelumnya,” jelas Sri Mulyani.

Pengeluaran atau belanja yang sebagian berasal dari utang tersebut, kata Sri Mulyani, sudah bisa terlihat hasilnya.

1. Sudah membangun jalan raya :
a. Tahun 2015 : 5.229 Km
b. Tahun 2016 : 2.528 Km
c. Tahun 2017 : 2.571 Km
2. Pembangunan bandara ada 9
tambahan bandara baru,
3. Bendungan 5.
4. Jalur kereta api
a. Tahun 2015. : 85 km
b. Tahun 2016 : 114 Km
c. Tahun 2107 : 175 Km .
5. Jumlah rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) :
a. Tahun 2015 : 99 ribu unit.
b. Tahun 2016 : 111 ribu unit.
c. Tahun 2017 : 123 unit.

Lebih jauh Sri Mulyani menerangkan, belanja investasi di sumber daya manusia penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP) menjangkau 20 juta siswa di 2017 supaya siswa bisa mengecap bangku sekolah dan tidak drop out.

Beasiswa Bidik Misi memberikan kepada 324 ribu mahasiwa dari sebelumnya tidak ada program ini.
Ditambah lagi lebih dari 16 ribu anak Indonesia mendapat beasiswa untuk sekolah ke luar negeri atau di universitas terbaik.

Pembangunan ruang kelas sebanyak lebih dari 28 ribu ruang kelas per tahun, bantuan dana operasional sekolah.

Sebanyak 90 juta waraga mendapat akses kesehatan tanpa membayar iuran karena ditanggung APBN, serta peningkatan ketersediaan obat dan vaksin di puskesmas.

Untuk perlindungan sosial, lanjut Sri Mulyani, Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) dan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat
1. (BLSM) sebesar Rp 17 triliun,
2. jaminan kesehatan Rp 5,6 triliun,
3. Program Keluarga Harapan (PKH)
Rp 1,8 triliun,
4. Bantuan Siswa Miskin (BSM)
Rp 4,64 triliun,
5. Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
Rp 3,96 triliun di periode 2012.
6 Bos menjadi Jamkes sejak tahun
2017 Rp 25 triliun.

“Jadi bukan kita melakukan utang karena senang, tapi ini taktikal investment untuk apa yang dibutuhkan republik ini. Untuk investasi manusia, infrastruktur untuk mobilitas masyarakat, menurunkan biaya logistik, efisiensi, dan lainnya,” pungkas Sri Mulyani.

Leave a Reply

Watsup 081319253387Daftar Free Member